{"id":2085,"date":"2022-08-08T09:37:07","date_gmt":"2022-08-08T09:37:07","guid":{"rendered":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/?p=2085"},"modified":"2022-08-08T09:37:08","modified_gmt":"2022-08-08T09:37:08","slug":"cipek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/cipek\/","title":{"rendered":"Cipek"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized is-style-rounded\"><img loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2022\/08\/photo_6307684220851565228_y-769x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2086\" width=\"300\" height=\"400\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><br>Limbah dari batok kelapa yang biasanya akan dibuang begitu saja oleh sebagian orang<br>akibatnya banyak batok kelapa yang menjadi limbah yang mengganggu lingkungan. Bagi<br>sebagian masyarakat, batok kelapa mungkin tidak berguna lagi karena merupakan sebuah<br>limbah. Padahal sebenarnya batok kelapa justru mempunyai nilai dan sangat berguna untuk<br>dijadikan kerajinan, sehingga muncul ide untuk mendaur ulang limbah batok kelapa<br>menjadi suatu barang yang mempunyai nilai seni. Kerajinan dari bahan dasar limbah batok<br>kelapa banyak dijadikan sebagai aksesoris dengan berbagai macam bentuk dan ukuran.<br>Mulai dari hiasan rumah hingga alat makan seperti mangkok, cangkir, piring dan lainnya.<br>Peminat dari produk kerajinan batok kelapa ini mungkin semakin meningkat seiring<br>dengan perkembangan zaman. Bentuk produk dari hasil kerajinan batok kelapa yang<br>memiliki serat yang unik dan klasik yang berasal dari batok kelapa itu sendiri serta bahan<br>bakunya yang mudah di dapat yang berasal dari bahan alami yang berasal dari limbah<br>kelapa, memiliki nilai lebih karena ramah lingkungan dan tahan lama, lebih mengutamakan<br>kerajinan tangan dalam proses pembuatannya, dan memiliki estetika tinggi. Pengolahan<br>limbah dari batok kelapa sebagai hasil dari produk kerajinan tergolong ke dalam industri<br>kerajinan yang paling membutuhkan kreatifitas dan pengembangannya untuk<br>meningkatkan nilai estetikanya. Untuk itu, batok kelapa yang digunakan untuk dijadikan<br>kerajianan adalah batok kelapa yang berusia cukup matang dan pemilihan ini juga<br>didasarkan pada ketahanan kelapa itu sendiri.<br>Di Desa Tanah Bawah sendiri pengrajin batok kelapa baru ada satu orang yaitu Bapak<br>Masri yang sudah menggeluti usaha ini dari 2018. Beliau memutuskan untuk membuat<br>cipek karena melihat peluang yang dapat dimanfaatkan dari limbah kelapa yang cukup<br>banyak, kemudian beliau mencoba untuk membuat berbagai alat makan yang kemudian<br>berlanjut hingga saat ini.<br><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Cara Pembuatan<\/strong><br>a. Pengupasan (pemisahan kulit kelapa dengan tempurung kelapa)<br>Proses pengupasan dilakukan dengan cara manual yaitu dengan cara menggunakan<br>parang. Setelah terpisah dari kulit, kemudian tempurung dibelah dan dipisahkan<br>dari daging buah kelapanya.<br>b. Pemotongan<br>Pola tempurung yang sudah bersih dari isi buah kelapa, kemudian dibuatkan pola<br>untuk di potong menggunakan alat pemotong gerinda.<br>c. Pengamplasan\/Penghalusan<br>Pengamplasan dilakukan dengan dua cara yaitu manual dengan tangan atau dengan<br>alat, proses penghalusan ini untuk menghilangkan bulu-bulu yang berada di<br>tempurung kelapa.<br>d. Perakitan<br>Setiap produk yang dihasilkan ada yang perlu dirakit dan ada juga yang dapat<br>langsung di proses akhir\/finishing. Contohnya seperi produk berbentuk cangkir<br>yang memerlukan rakitan kaki cangkir, pegangan cangkir hingga tutupnya. Proses<br>perakitan juga meliputi pengeleman antar komponennya, lem yang digunakan<br>biasanya lem yang awet dan tahan panas.<br>e. Finishing<br>Agar hasil akhir produk bisa terlihat lebih menarik dilakukan penghalusan<br>tempurung kelapa menggunakan alat yang fungsinya memberikan efek mengkilap<br>pada permukaan tempurung. Pengrajin tidak menggunakan pengecatan dengan<br>minyak\/zat kimia lain karena akan menimbulkan efek mudah mengelupas pada permukaannya serta tidak tahan panas apabila dipergunakan sebagai alat makan.<br><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Potensi<\/strong><br>a. Sedikitnya pesaing<br>Di Desa Tanah Bawah sendiri masih jarang adanya pesaing kerajinan dari<br>tempurung kelapa ini. Persaingan usaha pembuatan alat makan dari tempurung<br>kelapa cenderung dari luar daerah dan biasanya produk yang dihasilkan hanya<br>berupa satu jenis produk saja sedangkan yang sudah dihasilkan Pak Masri sendiri<br>meliputi beberapa jenis alat makan dan akan terus bertambah inovasinya.<br>b. Penambahan inovasi<br>Produk kerajinan yang sudah dihasilkan Pak Masri tidak hanya berkutat pada<br>tempurung kelapa saja, namun beliau juga menambahkan tempurung kelapa sawit<br>yang dimanfaatkan sebagai pegangan cangkir untuk menambah fungsi dan estetika<br>produk kerajinan. Dengan adanya penambahan inovasi seperti inilah yang<br>membedakan produk kerajinan ini berbeda dengan produk kerajinan kelapa yang<br>lainnya.<br>c. Minat masyarakat<br>Kerajinan dari batok kelapa ini sangatlah banyak peminatnya. Karena terbuat dari<br>bahan alami yaitu tempurung kelapa yang memiliki motif dan ukuran yang variatif<br>sehingga sangat indah dilihat dan sangat cocok dijadikan hiasan di dalam ruangan<br>juga akan menambah nilai estetika alami, karena warna cokelatnya yang seolaholah menyatu dengan alam. Selain itu, kerajinan ini juga dapat difungsikan sebagai<br>alat makan yang bisa dipakai di kehidupan sehari-hari hal ini menambah nilai<br>fungsinya serta menambah nilai jual produk.<\/p>\n\n\n\n<p><br><strong>Rekomendasi<\/strong><br>a. Pengemasan<br>Pengemasan produk berfungsi menjaga produk untuk tetap aman dan tidak<br>terkontaminasi dari benda apapun yang bisa merusak produk. Selain untuk<br>melindungi produk, fungsi kemasan juga sebagai strategi pemasaran sebuah<br>produk. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat kemasan produk<br>adalah; menonjolkan ciri khas produk sehingga mudah dikenal oleh konsumen,<br>menyajikan informasi yang jelas mengenai produk sehingga menambah<br>kepercayaan konsumen terhadap produk, memakai desain yang menarik dan sesuai<br>agar menarik konsumen.<br>Referensi pengemasan<br>(Gambar)<br>b. Pemasaran<br>Tahapan melakukan pemasaran produk cipek adalah sebagai berikut:<br>i. Product<br>Menambahkan kekhasan produk kerajinan cipek khas Tanah Bawah agar<br>dapat bersaing dengan produk yang serupa di pasaran. Penambahan inovasi<br>dan peningkatan mutu produk sangat diperlukan untuk menambah nilai jual<br>produk.<br>ii. Price<br>Harga yang telah ditetapkan produsen untuk produk kerajinan ini berkisar<br>diantara Rp 20.000,00-Rp 300.000,00 berdasarkan jenis produk, ukuran dan<br>tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya. Harga ini sudah cukup sesuai<br>jika dibandingkan dengan harga produk serupa di pasaran sehingga dapat<br>bersaing secara harga.<br>iii. Place<br>Saluran pemasaran dapat dilakukan dengan menjalin kemitraan dengan<br>rumah makan atau caf\u00e9 yang mengusung tema ramah lingkungan yang saat<br>ini cukup ramai diminati. Rencana pemasaran melalui sosial media juga<br>akan dilakukan melihat potensi sosial media saat ini yang sangat membuka<br>peluang untuk mengenalkan produk dengan jangkauan yang lebih luas.<br>iv. Promotion<br>Kegiatan promosi ini membantu mengenalkan produk kepada konsumen<br>atau public. Beberapa contoh kegiatan promosi yang dapat dilakukan yaitu<br>melalui iklan, acara\/event tertentu, publisitas seperti melalui seminar,<br>workshop dll, pemasaran interaktif di website atau digital marketing,<br>pemasaran dari mulut ke mulut dan promosi penjualan melalu kupon atau<br>voucher.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Limbah dari batok kelapa yang biasanya akan dibuang begitu saja oleh sebagian orangakibatnya banyak batok kelapa yang menjadi limbah yang mengganggu lingkungan. Bagisebagian masyarakat, batok kelapa mungkin tidak berguna lagi karena merupakan sebuahlimbah. Padahal sebenarnya batok kelapa justru mempunyai nilai dan sangat berguna untukdijadikan kerajinan, sehingga muncul ide untuk mendaur ulang limbah batok kelapamenjadi suatu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2086,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[79],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2085"}],"collection":[{"href":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2085"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2085\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2087,"href":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2085\/revisions\/2087"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2086"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2085"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2085"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pudingbesar.web.id\/tanah-bawah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2085"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}